Sabtu, 06 Desember 2014

Aku, kau, dan waktu

 
Malam itu, aku melihatmu di lorong.
Kutanya kau dengan siapa, tapi kau diam.

Kubayangi semua ini penuh warna,
Tapi tidak. Ini semua hitam. Gelap.

Kau tetap berdiri di lorong sana.
Tanpa wajahmu tahu, kau hendak kemana?

Kuajak kau berlari, tapi kau diam.
Kuajak kau tertawa, tapi kau malah menangis.

Tidak bisa....
Kau tidak bisa untuk tetap di sana.
Waktu terus berjalan.
Waktu tidak berhenti.

Kau harus berlari, berjalan, atau merangkak.
Bukan diam! Bukan diam! Bukan diam! Bukan diam!

"semu"

Cinta kita tak nyata. Hanya ungkapan semu tanpa arah.

Cinta, kita berdusta. Tak sanggup mengakui bahwa kita adalah sama.

Rasa itu begitu mencambuk dada. Kau ada, tapi tak bisa kuraih. Apa yang salah?

Hentikan! Aku bukan gitar yg bisa kau cari melodi indahnya, lalu kau acak-acak senarnya.

Bibir dan hatiku tak bohong.

Aku melihatmu dalam pikiranku. Semoga kau bukan hanya semu.

Jujur, sakit ini begitu meradang, hingga meutupi selaput otak.

Tahukah kau akan itu?


Berkacalah....!!!
Karena aku menunggumu dalam gelap!

Akulah...

 
Akulah wanita bagimu.
Yang terduduk diam di samping ragamu.
Akulah wanita yang senang melihat ketelanjanganmu.

Akulah wanita bagimu.
Memberimu desah-desah gairah dikala malam.
Akulah yang megetahui setiap lekuk tubuhmu.

Akulah wanita bagimu.
Yang membangunkanmu dengan sentuhan.
Dan kau yang memberiku hasrat, adalah lelakiku.

Aku "terdakwa"

 
Malam itu aku didakwa bersalah karena sudah mengantarkan perasaanku ke pintu hatimu.

Malam ini aku didakwa bersalah karena telah menjerumuskanmu dalam lubang kegalauan untuk memilih antara "aku" atau "siapa"....?!

Malam esok mungkin aku akan didakwa bersalah karena telah membuat kau terperangkap dalam situasi penyesalan karena telah meninggalkanku!!!!

"ternyata"

 
Begitu banyak ketidakjelasan yang ada disekelilingku tanpa pernah aku sadari.
Begitu dalam perasaan sayang, harus siap terkikis oleh kekecewaan.

               Aku adalah kelembutan diantara benturan-benturan disekelilingku.
               Aku adalah bingkai dari kekosongan diantara ramai. Sepi diantara riuh. Dan gelap diantara cahaya.


Jika hening, aku ingin teriak!
Dan membenamkan diri jauh ke dalam ego manusia yang tak mau kalah.


Baiklah, mari kita akhiri segala kegelisahan kita dengan berhenti bersikap pura-pura!
Bisakah???

Curhatan malam!

 
Aku putus asa lagi!
Menghadapi semua kesempatan yg datang tapi berlalu begitu saja tanpa ada kemungkinan harapan.
Nyaliku hampir ciut, ketika tahu kepingan memori itu kembali merampas waktu dan naluriku sebagai perempuan
Jujur aku takut! Kebiasaan ini akan mengoyak mentalku dan membungkam tawaku lagi.
                                           Otakku penuh dengan tanya:
                                           KAPAN?SIAPA?BAGAIMANA?
                                           Pertanyaan yang hampir tiap detik aku susun.
                                           Tapi aku bosan menanti saat itu.
                                           Saat rahasia antara aku, Tuhan, dan dia
                                           Sudah terlalu sering aku diacak-acak perasaan.
Entah apa yg Dia mau?
Entah apa maksudnya?
Entah kapan cerita ini akan sampai diujungnya?
Entah sampaikah waktuku menunggu?
Entah....?????

GESTAVO 70??? (KRITIK NIH WAT YANG PUNYA NAMA)

 
Tadi pagi tepatnya pukul 01.00 WIB ketika dalam perjalanan pulang melewati manggarai dan setia budi, saya dan seorang kawan melihat beberapa konvoi mobil pribadi dengan isi manusia di dalamnya tapi tidak beraturan tempat dan memakai jaket/alamater biru bertuliskan "GESTAVO 70". Mereka dikawal oleh 1 mobil patroli polisi dan beberapa motor yang penumpang di belakangnya membawa bendera. Awalnya kami (saya, kawan saya dan beberapa pengendara yang lain) biasa saja, tapi setelah sadar bahwa mereka konvoi hanya untuk aksi pamer, rusuh dan membuat polusi suara dengan berteriak-teriak tidak jelas dan menghambat laju kendaraan kami dengan membuat palang dengan motor-motor mereka. Maka saya berteriak, "udah terobos aja, ga usah takut. Lagian siapa mereka  ngalangin jalan kita?sama-sama bayar pajak kok!".  Dengan tatapan sinis beberapa dari mereka yang melihat kami berdua dengan cueknya menerobos palang yang mereka buat dan melaju sejajar dengan mobil-mobil mereka, bahkan ada yang sengaja mengejek kami. Miris ya.... Memakai atribut dengan memajang satu nama dibadan tapi perilakunya minus, apa coba maksudnya ngalangin orang lain jalan di samping kendaraan mereka? Mau sekedar exis, nyamain diri layaknya pejabat or orang penting di negara ini gitu? hahahahaha......pikirin lagi deh, kalian udah layak belum untuk disejajarkan dengan mereka? Dari pada aksi pamer, bikin polusi suara dan ga jelas juntrungannya, mendingan kalian asah otak dan asah ideologi deh. Negara lebih membutuhkan sumbangan otak kalian. Itu kalau emang mau dianggap penting dan kalau emang mau disejajarkan dengan pejabat di negeri ini. (Catatan untuk kalian: "Negeri ini sudah rusuh dan sudah banyak polusi suara, jadi jangan ditambahin lagi laaah!!!!!". Kalau mau exis dan pamer mending sewa stasiun tv dan infotainment aja!!!).

Sorry, i'm leaving you....

 
Sumpah demi Tuhan, aku membencimu bukan karena kita tak bersama.
Tapi aku membencimu karena Tuhan tahu ada yang salah dengan kita.
Maaf, aku harus meninggalkanmu disaat rapuh.
Disaat otakmu sudah tak bisa memikirkan mana yang waras dan mana yang tak nyata.
Maaf juga, jika aku telah mengotori hidupmu dengan tawa dan tangisku yang semuanya untuk dan demi dirimu.
Perih memang, tapi hubungan ini akan lebih menyakitkan bila kita teruskan tapi tanpa tahu akan berakhir kapan, dimana, dan seperti apa!!!
Aku bersedia menguliti memori otakku demi kebahagiaan kita, nantinya.
Sorry...... i'm leaving you...

hampir!!!!

 
Perasaan ini mulai melarutkan aku dalam dilema.


Hampir teriak!!!!


Hampir bunuh diri!!!


Hampir!!!

Untitled

 
Kurentangkan sayapku untuk mendampingimu ketika akan jatuh.

Kubiarkan rasa sakit ini mengubah jalan Tuhan, karena memaksakan yang bukan nasibku.

Entah jodoh atau tidak, yang jelas aku bertaruh nafas pada Tuhan demi dirimu.

Tolong, jangan sia-siakan aku.

Kau.

 
Langkahku gontai, nyaliku menciut.....
Apalagi yang tersisa???

Aku dikepung rasa bersalah!
Aku dilumuri rasa malu!

Oh Tuhan....bawa saja semua hasratku, agar aku tak selalu berharap pada "hampa".

Tapi jangan tinggalkan aku,
.....jangan tinggalkan aku, seperti mereka,
.....seperti yang lain!!!!!

Buat aku melupakan mereka, yang pernah meludahiku!

Tapi biarkan aku mengingatmu, sampai ketulang rusukku!
Biarkan memoriku hanya tentang-Mu.

Ingin!

 
Tulisanku takkan pernah sama.
Dan hasrat pun jarang berubah.

Tapi, aku.........
Ingin selesai!
Ingin berhenti!
Ingin normal!
Ingin kembali!
Ingin!

Aku, mereka, (wanita, perempuan)

 
Aku bukan wanita gila!!!
Aku bukan perempuan jalang!!!
Aku juga bukan anak ingusan!!!

Ceritakan saja pada mereka yang menganggap keluar malam adalah "dosa".
Dan pada mereka yang memberi cap bahwa perempuan yang keluar malam- pulang pagi adalah "pendosa".

Lidah mereka penuh liur cibiran.
Nafas mereka berbau sindiran.
Mulut mereka menceritakan ketidaknormalan dari kacamata mereka.

Sampai kapan wanita selalu dicap "pendosa"????

Padahal wanita, perempuan,
Selalu menemani mereka di samping tidurnya.

"Jangan pernah"

 
Jangan pernah panggil namaku saat hidupmu sudah tak bergairah!!!

Jangan pernah panggil namaku saat kau sudah tak bisa melangkah!!!

Jangan pernah temui aku karena kita memang berbeda!!!

Jangan pernah temui aku jika kita tak bisa bersama!!!

THE STORIES....

 
Aku sudah menuang seluruh hidup untukmu. Tapi jiwa ini selalu memar ketika melihat perselingkuhanmu. Andai aku orang jahat, pasti kau sudah masuk liang kubur. Aku sudah memupuk rasa ini dalam ruang yg sangat dalam. Dan kuncinya sudah kubuang ke lubang yang amat jauh dari tangan manusia. Andai kau mau tahu, aku lah yang siap menelan pahit atas rasa kekesalanmu.


Bersyukur atau tidak, yang jelas kita adalah darah dari sel yang tak siap mati.
Kau bukan jantung untuk ragaku, tapi kau bisa buat aku bernafas.
Kau bukan urat yang bisa membuatku bergerak, tapi kau bisa buat aku menangis.

Entah cinta atau tidak, yang jelas kita adalah keturunan adam dan hawa.

Bisa dipersatukan, bisa juga dipisahkan.

teori aksi dan perempuan

 
Setiap serangan dan kemenangan baru dalam perjuangan politik akan berdampak secara dahsyat kepada perjuangan ekonomi, karena dengan meluasnya cakrawala kaum buruh serta motivasi mereka untuk memperbaiki kondisi mereka, pengalaman tersebut juga mempertinggi semangat tempur mereka. Setiap selesai gelombang aksi politik, ada endapan subur, dari situ akan muncul ribuan perjuangan ekonomi, dan sebaliknya.

Puncak pemogokan massa adalah "pemberontakan terbuka, yang hanya akan terealisir sebagai titik kulminasi dari serangkaian pemberontakan lokal yang mempersiapkan medan (yang hasilnya selama beberapa waktu mungkin adalah kekalahan sementara, sehingga aksi tersebut mungkin tampaknya ‘gegabah’)." Betapa hebatnya peningkatan kesadaran kelas yang dapat dihasilkan oleh pemogokan-pemogokan massa ini: Yang paling berharga (karena paling abadi) dalam naik turunnya arus gelombang revolusi, adalah perkembangan jiwa kaum proletar. Keuntungan yang didapat oleh lompatan intelektual yang tinggi kaum proletar akan menjamin kemajuan mereka secara terus menerus dalam perjuangan politik dan ekonomi yang akan datang.”

perempuan dapat mencapai kemerdekaannya secara penuh hanya dengan memenangkan revolusi sosial dan menyingkirkan perbudakan ekonomi mereka pada institusi keluarga, dan dia mencurahkan seluruh energinya untuk dipersembahkan pada revolusi.

“Seorang perempuan, harus berani untuk terlibat dalam politik, sebuah wilayah yang hampir seluruhnya dikuasai oleh laki-laki”, demikian ungkap Rosa Luxemburg

Tentang istrinya.....(yaitu istrimu)

 
Istrinya adalah orang pertama yang dicintainya sebelum aku.
Sosok perempuan yang pertama kali mendengar kata cinta dan kejengkelan dari mulutnya. Yang menemani dalam setiap kegelisahan atau kesenangannya. Bisa memberi kabar gembira atas kelahiran seorang anak.

Bodoh sekali bila aku berpikir aku lah perempuannya.
Meski ia bilang "ingin memelukku".
Meski ia bilang "ingin menciumku".
Meski ia bilang "kangen, ingin ketemu kamu".

Sedih, saat mengetahui perempuan itu sedang terbaring lemah.
Salut, saat tahu bahwa kau masih bisa menggenggam sekelilingmu, meski perasaanmu terbelah dua.

Kini aku cukup tahu diri untuk hanya menginginkanmu dalam otakku saja.
Tak perlu kau tahu bahwa saat ini aku sedang menangis, karena tak bisa ada didekatmu.

Biarkan kita bertemu dengan karakter dan obrolan yang berbeda.
Sebab jika masih sama, itu hanya akan membuat kecewa.


Titip salam untuk istrimu.

Apa...(aku)

 
Akulah yang tertinggal dari kumpulanku.
Yang terhina karena ketidaksamaan.
Yang terpinggirkan karena ketidaknormalan.

Apakah beda berarti bodoh?
Berarti harus disingkirkan?
Berarti gila?
Berarti....Tuhan tidak adil.

Aku lahir dari perasaan yang samar.
Tumbuh dari amarah.
Dan akan mati dengan bahagia.

Apakah hidup harus selalu berada dalam lingkaran?
Sehingga aku tidak boleh berada dalam segitiga?

Aku bukan ibuku

 
Aku bukan ibuku yang bisa menguliti rasa sakitnya dengan diam.
Aku bukan ibuku yang bisa diam saat sang suami dan anak teriak.
Aku bukan ibuku yang semua keluh kesahnya ditumpahkan dalam doa.
Aku bukan ibuku yang peduli dengan kesakitan yang dialami seisi rumah.
Aku bukan ibuku yang masih bisa menerima nasib meski dalam ketidakmampuan.
Aku bukan ibuku yang selalu bisa berkata iya meski tak mau.
Aku bukan ibuku yang menyayangi seisi keluarga meski berairmata.


Apakah Tuhan akan marah?

wanita dalam rumah

Wanita dalam rumah

 
Kau tak perlu pulang ke rumah jika tak ingin. Karena sudah tak ada segelas kopi di atas meja. Ranjangpun kini sudah tak pernah aku hias. Di rumah aku hanya memakai kebaya. Tanpa gincu, bedak dan perona pipi. Tak ada lagi wangi parfum ditubuhku. Sekarang aku hanya wanita pada umumnya. Bukan lagi penggoda. Bukan lagi wanita yang suka kau rayu. Akulah Janti.

Syair malang

 
Dunia.....Penuh manusia sengsara. Jiwa rapuh, hati bimbang ragu. Matahari membenci, tak peduli. Dan Tuhan amat jauh di surga. Lalu kemana mencari bahagia? Dunia....Bagai neraka di alam nyata. Keringat darah habis dikuras. Nama, tahta, harta, dan bahagia diburu lewat berbagai cara. Tapi yang didapat cuma derita.

ambigu

ambigu

 
Tuhan....
Air mata ini telah mengisi semua rusukku.
Hingga hati kupun mengapung diantaranya.

Jika emosi berteman dengan logika, apakah perasaan bisa dianggap punya mata?

Terlalu cepat aku berlari, hingga sudah tak kuat lagi melangkah!
Terlalu lama aku berpikir, hingga disekelilingku hanya suara-suara diam!!

Tak kutemui wajahmu dalam otakku.
Tapi aku hembuskan nafasmu dalam tiap detikku.

Apakah aku kalut?
Apakah kau kabut?

Ini bukan aku!!
Ini perasaanku!!
Dan aku mulai berpikir, lagi!!